Satu-satunya di Indonesia, FORTAK MWCNU Paiton Istiqamah dalam Kajian Tradisi NU sejak Tahun 2014

MWC PAITON : Forum Tadarus Kitab (Fortak) milik Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Paiton Probolinggo Jawa Timur yang lahir pada tahun 2014 masih terus berjalan sampai saat ini. Demikian keterangan yang disampaikan oleh salah satu anggota Fortak bapak H. Ramzi.

"Ya sekitar tahun 2014 Fortak ini dimulai, saya masih ingat sebelum masjid MWC direhab," tutur ketua takmir masjid   MWCNU Paiton ini, Jum'at (24/10/2025).

"Masjid MWC ini mulai direhab pada bulan September tahun 2016, jadi dua tahu sebelum itu sudah ada fortak," katanya.

Keterangan ini juga diamini oleh Rois Syuriah MWCNU Paiton, KH Moh Barzan Ahmadi.

"Ya sekitar tahun 2014 fortak ini lahir," jawabnya saat ditanya tahun kelahiran fortak.

Kiyai Barzan juga menyampaikan bahwa fortak yang ada di MWCNU Paiton adalah satu-satunya sistem kajian ke NU-an yang mungkin tidak ada di tempat lain.

"Kalau mengkaji tradisi NU banyak, yang mengaji kitab ahlissunnah banyak, seminar banyak, tapi yang mengaji dengan sistem tadarus bergantian setiap pertemuan, seperti tadarus al Quran,  mungkin ini satu-satunya di Indonesia,".

Namun demikian rois syuriyah ini juga menyampaikan kemungkinan ada yang mirip dengan sistem kajian di MWC yang lain.

"Namun  kalau ternyata juga ada MWC lain seperti ini, misalnya di luar jawa, ya berarti keterangan saya ini dikoreksi, tapi kayaknya tidak ada, yang pasti namanya bukan fortak,"  tegasnya.

Dalam forum ini anggota yang hadir sebagian bertugas membaca kitab, menerjemahkan dan menjelaskan yang dilanjutkan dengan diskusi semua anggota.

"Peserta yang hadir dipersilahkan membaca kitab, dan mereka tidak mendapatkan kesulitan, karena kebetulan di MWC Paiton ini banyak alumni dari pondok pesantren, seperti Sidogiri, Lirboyo, Sarang, dan pondok sekitar, seperti, Darul Ulum, Nurul Jadid, Nurul Qadim, Mambaul Ulum, Islamiyah Syafi'iyah, Nurul Yaqin dan beberapa pondok yang lain," imbuh kiyai Barzan.

"Sekarang kita sudah mengkaji kitab ketiga, pertama waktu awal kita kaji memakai kitab Bidayatu Mujtahid, setelah itu kita ganti kitab Tafsir Ayat Ahkam, sekarang ini kita kaji kita Mafahim karya Sayyid Alwi Al Maliky," sambungnya. 

"Sudah banyak sistem yang kita lalui, kalau dulu hanya di masjid mwc, kemudian pindah ke rumah2 pengurus, sekarang kordinatornya Gus Amak, dilaksanakan di pondok pesantren sekitar Paiton dengan bergantian, sekalian silaturrahim dan menjadi forum mengasah kembali kompetensi kitab kuning bagi alumni pesantren, karena ini sebenarnya tradisi santri ketika mondok,".

Sementara Gus Amak sendiri mengharap kegiatan Fortak ini lebih banyak diikuti oleh masyarakat luas untuk menambah maslahah kajian keilmuan.

"Saya berharap fortak yang kita laksanakan setiap bulan ini selanjutnya lebih banyak yang mengikuti, biar lebih banyak menebar ilmu dan maslahah untuk masyarakat," harap Gus yang mempunya nama panjang KH Muhammad Idris Mubarok ini.

"Sangat disayangkan, bagi orang yang suka diskusi keagamaan kalau ini dilewatkan, pandangan dan pendapat dalam diskusi di sini semuanya daging," beliau bermetafora, menegaskan kalau kajiannya padat ilmu dan referensi yang sangat bisa dipertanggung jawabkan.

"Khusus malam ini kita tempatkan di hotel Utama Raya Banyuglugur, ini karena ada teman anggota fortak yang nyumbang, ada juga yang nyumbang konsumsi, transportasi, jadi saling gotong royong, dan kebetulan fortak bulan ini juga dalam rangka semarak hari santri 2025," pungkas pengasuh pondok Islamiyah Syafi'iyah yang juga sebagai penceramah ini. (ZA)