1. Latar Kelahiran dan Keluarga
KH Muhammad Munawwir (1870–1941) lahir di Kauman, Yogyakarta, dari pasangan KH Abdullah Rosyad dan Nyai Khodijah. Keluarga tersebut dikenal sebagai keluarga religius yang memiliki keterikatan kuat dengan tradisi keilmuan Islam. Dalam perjalanan hidupnya, KH Munawwir membentuk beberapa hubungan pernikahan dengan perempuan-perempuan dari latar sosial berbeda; antara lain Nyai R.A. Mursyidah dari lingkungan Keraton Yogyakarta, Nyai Hj. Suistiyah dari Wates, Nyai Salimah dari Wonokromo, dan Nyai Rumiyah dari Jombang. Setelah wafatnya istri pertama, beliau menikah kembali dengan Nyai Khodijah dari Kanggotan, Gondowulung. Relasi pernikahan yang beragam ini memperluas interaksi kultural dan jaringan sosial beliau, terutama dalam konteks perkembangan pesantren di Yogyakarta.
2. Pendidikan Awal dan Jaringan Keilmuan Nusantara
Sejak usia dini, KH Munawwir diarahkan untuk menekuni Al-Qur’an dan ilmu-ilmu keislaman. Pendidikan awal beliau berlangsung di Bangkalan di bawah bimbingan KH Maksum. Selain itu, beliau juga memperluas wawasan keagamaannya kepada ulama Nusantara terkemuka, seperti:
- KH Abdullah (Kanggotan Bantul),
- Syaikhona KH Kholil (Bangkalan Madura),
- KH Sholih Darat (Semarang),
- KH Abdur Rahman (Watucongol, Muntilan).
Pola pendidikan seperti ini mencerminkan karakter keilmuan pesantren pada abad ke-19, yaitu mobilitas tinggi para santri untuk berguru kepada banyak kiai guna memperoleh legitimasi intelektual serta keberkahan sanad keilmuan.
3. Studi Lanjutan di Haramain dan Penguatan Kompetensi Al-Qur’an
Pada tahun 1888, KH Munawwir berangkat ke Mekkah. Selama enam belas tahun bermukim di Kota Haram tersebut, beliau fokus mendalami Al-Qur’an, qiraat, dan tafsir. Selanjutnya, beliau melanjutkan studi di Madinah, sehingga total masa pendidikannya di dua kota suci tersebut mencapai dua puluh satu tahun. Proses ini menempatkan KH Munawwir sebagai salah satu ulama Nusantara yang mendapatkan pendidikan intensif dalam tradisi Qur’ani Timur Tengah pada masa itu.
Selama berada di Haramain, ia belajar kepada sejumlah masyayikh terkemuka, seperti Syekh Abdullah Sanqara, Syekh Syarbini, Syekh Muqri, Syekh Ibrahim Huzaimi, Syekh Manshur, Syekh Abdusy Syakur, dan Syekh Musthafa. Keilmuan beliau dalam qiraat sab‘ah terbangun sangat kuat, sehingga ia dikenal sebagai ulama Jawa pertama yang menguasai qiraat tujuh secara komprehensif. Melalui Syekh Yusuf Hajar, KH Munawwir memperoleh sanad tahfiz Al-Qur’an dengan qiraat Imam ‘Asim riwayat Hafs yang tersambung hingga para sahabat Nabi dan Rasulullah SAW.
Sanad yang panjang dan otoritatif tersebut bukan hanya memberikan legitimasi formal, tetapi sekaligus menegaskan posisi beliau dalam jaringan ulama pembaca Al-Qur’an internasional pada masa pra-kolonial akhir dan kolonial awal.
4. Kepulangan ke Nusantara dan Perintisan Pesantren Krapyak
Sekembalinya ke Yogyakarta pada tahun 1911, KH Munawwir mendirikan majelis pengajian yang kemudian berkembang menjadi Pondok Pesantren Krapyak. Pesantren ini menjadi salah satu pusat pembelajaran Al-Qur’an yang sangat berpengaruh pada abad ke-20. Selama lebih dari tiga dekade memimpin pesantren tersebut, KH Munawwir membentuk tradisi tahfiz yang terstruktur dan kuat, sehingga melahirkan generasi penghafal dan pengajar Al-Qur’an yang tersebar di berbagai wilayah Jawa dan luar Jawa.
Di antara murid-muridnya yang kemudian menjadi tokoh penting pesantren Al-Qur’an adalah:
- KH Arwani Amin (Kudus),
- KH Badawi (Kaliwungu),
- K. Zuhdi (Nganjuk Kertosono),
- KH Ahmad Umar (Mangkuyudan Solo)
- KH Umar Sholeh (Kempek Cirebon),
- KH Munawwir Tegalarum (Kertosono),
- KH Muntaha (Kalibeber Wonosobo),
- KH Murtadlo (Buntet Cirebon),
- KH Ma‘shum (Gedongan),
- KH Abu Amar (Kroya),
- KH Suhaimi (Benda Bumiayu),
- KH Syatibi (Kiangkong Kutoarjo),
- KH Anshor (Pepedang Bumiayu),
- KH Hasbullah (Wonokromo Yogyakarta),
- KH Muhyiddin (Jejeran Yogyakarta).
Jaringan ini menunjukkan peran strategis Krapyak dalam membentuk ekosistem pesantren Al-Qur’an di Nusantara.
5. Praktik Ibadah dan Etos Keulamaan
KH Munawwir dikenal memiliki komitmen ibadah yang tinggi. Beliau menjaga salat wajib dan sunnah secara konsisten, serta mengkhatamkan Al-Qur’an setiap pekan, umumnya pada hari Kamis, dengan model wiridan al Qur'an khataman mingguan ala rumus فمي بشوق, yang merupakan singkatan wirid harian al Qur'an sebagai berikut:
- Jum'at: al-Fātihah sd an-Nisā'
- Sabtu: al-Mā'idah sd at-Taubah
- Ahad: Yūnus sd an-Nahl
- Senin: Banī Isrā'il/al Isrā' sd al-Furqān
- Selasa: asy-Syu'arā' sd Yāsīn
- Rabu: wash-Shāffāt sd al-Hujurāt
- Kamis: Qāf sd an-Nās
Sifat muru’ah tercermin dari kerapian berpakaian dan sikap sosial yang santun. Pada acara-acara resmi Keraton Yogyakarta, beliau hadir dengan pakaian dinas keraton, memperlihatkan integrasi harmonis antara otoritas keagamaan dan struktur budaya lokal.
Beliau juga dikenal sebagai figur yang memperhatikan kesejahteraan dan hubungan personal dengan santri maupun masyarakat sekitar. Prinsip-prinsip yang ia ajarkan dalam pengajian diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. KH Munawwir menerima tamu tanpa diskriminasi status sosial dan sesekali berkunjung ke rumah keluarga santri sebagai bentuk penguatan relasi sosial pesantren.
6. Wafat dan Warisan Keilmuan
KH Munawwir wafat setelah mengalami sakit selama enam belas hari, tepatnya pada 11 Jumadil Akhir 1360 H (6 Juli 1942), di kompleks Pesantren Krapyak. Beliau dikenang sebagai pelopor tradisi tahfiz Al-Qur’an di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Warisan keilmuannya tidak hanya hadir dalam bentuk pesantren, tetapi juga melalui jaringan santri dan model pembelajaran Al-Qur’an yang terus berkembang hingga kini.
Dalam konteks sejarah pesantren Indonesia, kontribusi KH Munawwir dapat dipahami sebagai fondasi utama bagi munculnya tradisi tahfiz modern di Jawa, yang kemudian melahirkan komunitas-komunitas penghafal Al-Qur’an di berbagai daerah. Posisi beliau sebagai penghubung antara ilmu Qur’ani Haramain dan tradisi pesantren Nusantara menjadikannya tokoh kunci dalam transmisi keilmuan Islam abad ke-19 dan awal abad ke-20. Maka tidak salah jika kemudian kita sematkan gelar Syaikhul Maqāri' fi Nusantara kepada Mbah KH Muhammad Munawwir Krapyak Yogyakarta.
Kagem beliau Mbah Munawwir dan para ulama al Quran yang telah wafat, al Fatihah.
📸 Makam KH Muhammad Munawwir di Kompleks Pemakaman Belakang Masjid Pathoknegoro Dongkelan Bantul Yogyakarta.
Referensi:
Para Penjaga al Qur'an, terbitan Lajnah Pentashihan Mushaf Kemenag RI
Oleh: Sahal Japara
[Ditulis dalam Rangka Dzikra Haul Mbah Munawwir Krapyak Yogyakarta ke-87]
#UlamaNusantara