Dalam surat undangan yang tersebar, sosialisasi SALEHA ( Sadar Legalitas Berusaha) akan dibuka pada pukul 08.00 WIB (Selasa, 4 Nopember 2025). Faktanya, jam baru menunjukkan pukul 07.30 WIB. Ratusan peserta menyemut, memadati halaman Aula MWCNU Paiton. Mereka hanya sebagian dari ribuan pengusaha yang bernasib baik, mendapatkan undangan kegiatan sosialisasi SALEHA. Tentu, ini fenomena yang membanggakan. Nahdiyyin yang selama ini dipersepsi sebagai masyarakat dengan penghasilan rendah dan hanya sibuk dengan tradisi tahlilan, tiba - tiba muncul sebagai pengusaha yang antusias mendapat pencerahan untuk melegalkan usahanya. Ini bukan fenomena biasa. Nahdiyyin were back.
Ratusan pengusaha kecil dan menengah yang hadir di Aula MWCNU hari ini, adalah bukti bahwa NU bukan sekedar jam'iyah diniyah (organisasi, keagamaan) yang bertugas menjaga moralitas bangsa, tetapi lebih dari itu, NU adalah Jamiyyah ijtimaiyyah (organisasi kemasyarakatan) yang salah satu pilarnya adalah memajukan perekonomian bangsa.
Dalam sejarah, beberaoa tahun sebelum NU lahir,tepatnya pada tahun 1918, para ulama' yang dikomandani oleh Kyai Wahhab Hasbullah telah bersepakat melahirkan organisasi pedagang yang mereka beri nama: Nahdlatut Tujjar (kebangkitan para pengusaha). Organisasi ini bergerak memperkuat kemandirian ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor perdagangan. Kelak, organisasi ini menjadi embrio lahirnya Nahdlatul Ulama' (NU).
Artinya, sejak lama gen sadar ekonomi telah melekat dan mewarnai perjuangan NU.
Antusiasme warga NU untuk melegalkan usahanya dapat dibaca dari dua sisi. Pertama, harus diakui bahwa ekonomi nahdiyyin sedang membaik. Kesadaran untuk berjual beli adalah langkah awal yang strategis untuk peningkatan kesejahteraan ekonomi mereka. Dalam Islam, Nabi Muhammad sebelum menjadi Rasul adalah pengusaha yang sukses. Fakta ini dapat memotivasi nahdiyyin bahwa Rasulullah tidak pernah merasa minder dan malu untuk berbisnis. Rasulullah dengan tindakannya seakan menasehati umatnya bahwa berdagang itu bukan aib dan bukan keserakahan.
Bahkan, ketika beliau diangkat menjadi Rasulpun motivasi untuk berdagang senantiasa beliau sampaikan. Suatu saat, seorang sahabat bertanya kepada beliau :
أَىُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ
“Wahai Rasulullah, mata pencaharian apakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi).” (HR. Ahmad). Dahsyaf bukan?
Kedua, fenomena membludaknya peserta sosialisasi SALEHA juga dapat dimaknai bahwa kepatuhan NU kepada pemerintah bukan basa-basi, bukan kepatuhan semu. Dalam lintasan sejarah tercatat betapa NU selalu menjadi warga negara yang tidak hanya setia kepada NKRI, tetapi berjuang merebut kemerdekaan, mendukung semua program negara yang tidak bertentangan dengan syariah. Pada masa orde lama, 1954, NU berdiri gagah menyematkan gelar
Waliyyul Amri Dharuri Bissyahkah kepada Soekarno untuk mengakui keabsahan kekuasaannya sebagai pemimpin negara. Dengan gelar ini, NU mengakui bahwa semua kebijakan Soekarno adalah sah dan mengikat. Pada Orde Baru, NU walaupun sering berseberangan dengan Presiden Soeharto untuk persoalan-persoalan prinsip yang bertentangan dengan syariah, tetapi NU menjadi organisasi pertama yang menerima pancasila sebagai asas tunggal. NU pula yang berdiri terdepan mendukung program Keluarga Berencana yang dibuat oleh Orde Baru. Sampai di titik ini kita paham bahwa ketundukan NU terhadap pemerintah telah teruji sepanjang perjalanan sejarah. Maka, ketika hari ini kita melihat nahdiyyin yang berduyun- duyun menghadiri aula MWCNU, kita tidak akan kaget mendapati kepatuhan mereka untuk melegalkan usahanya dan, tentu, menjalankan kewajiban membayar pajak usaha sebagai warga negara setia.
Akhirnya kita sadar, sosialisasi SALEHA yang digelar oleh MWCNU ini adalah sumbu awal yang akan meledakkan gairah bisnis nahdiyyin di masa yang akan datang. SEMOGA (SH)