Sore itu, Jumát 31 Oktober 2025, kami bersama pengurus MWCNU Paiton berangkat menuju pulau Madura. Ini bukan perjalanan biasa. Sejak lima belas tahun yang lalu, MWCNU Paiton rutin melakukan ziarah; mengunjungi makam ulama’ dan sowan ke beberapa kyai dan pesantren di Indonesia. Tentu, saat kami mengunjungi maqbarah ulama’, kami tidak berdoa kepada kuburan seperti tuduhan orang nyinyir yang menyebut orang NU sebagai kuburiyyun, pemuja dan penyembah kuburan. Saat kami sowan ke pesantren dan para ulama’, kami juga bukan budak yang datang jauh-jauh hanya untuk “menghambakan diri” kepada para kyai yang kami sowani.
Perjalanan kali ini dimulai dengan berziarah ke maqbarah Sunan Ampel di Surabaya, lalu berlanjut ke maqbarah Syaikhuna Khalil di Bangkalan. Di sini, kami mengaji al-Qurán, bertahlil dan berdoa untuk kebaikan shahibul maqbarah, mengambil ibrah dari kedekatan Syaikhuna Kholil dengan Allah dan kemanfaatan hidup beliau untuk ummat, serta memotivasi diri agar senantiasa berada di jalan yang benar.
Ziarah kubur bukan tradisi NU. Rasulullah SAW sebagaimana disebutkan dalam berbagai redaksi hadits telah mencontohkannya. Bahkan, bukan hanya sekali Rasulullah mengunjungi kuburan. Dalam hadits tercatat bahwa selain mengunjungi maqbarah ibunya, beliau juga mengunjungi kuburan para sahabatnya, Bahkan beliau juga pernah mengunjungi, melakukan shalat dan berdoa di samping kuburan Ummu Mahjan, seorang marbot Masjid Nabawi saat itu.
Memang, ada sebagian peziarah yang setelah mengaji dan berdoa, menangis di samping maqbarah Syaikhuna Khalil. Bisa saja, mereka menangis karena bersedih dan menyesal tidak pernah berguru secara langsung kepada beliau semasa hidupnya. Salahkah mereka? Haruskah dilarang? tentu tidak. Peziarah kubur yang menangis bukan hanya orang-orang NU, Rasulullah sebagai teladan kita juga pernah menangis saat berziarah ke makam ibunya. Haditsnya shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim : زَارَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْرَ اُمِّهِ, فَبَكَي وَاَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ (Nabi SAW mengunjungi kubur ibundanya, lalu beliau menangis sehingga membuat orang-orang di sekitar beliau menangis). Menangis adalah naluri manusia seperti halnya rasa lapar dan rindu. Islam sebagai agama fitrah tidak akan pernah melarang hal-hal naluriah yang diciptakan Allah untuk manusia.
Setelah melaksanakan tahlil dan berdoa untuk Syaikhuna Khalil, sebelum beranjak dari area maqbarah, kita berdoa untuk diri kita masing-masing. Tentu, karena hajat dan harapan masing-masing peserta tidak sama, doa tidak dilaksanakan berjamaah sebagaimana pembacaan tahlil.
Rangkaian acara di area maqbarah Syaikhuna Khalil ini dilakukan sesuai arahan dari Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’Ulumuddin :
فالمقصود من زيارة القبور للزائر الاعتبار بها وللمزور الانتفاع بدعائه فلا ينبغي أن يغفل الزائر عن الدعاء لنفسه وللميت ولا عن الاعتبار به
(Tujuan mengunjungi kubur bagi peziarah adalah : 1. mengambil hikmah atau pelajaran dari ziarah itu sendiri; 2. Bagi ahli kubur yang diziarahi mendaptkan manfaat atas doa peziarah. Karenanya, peziarah tidak seharusnya lupa untuk : 1) berdoa untuk dirinya sendiri dan bagi ahli kubur yang diziarahi; dan 2) mengambil hikmah atau pelajaran dari ahli kubur,)
Langit mulai gelap. Rombongan kembali menaiki bus yang akan membawa mereka ke tujuan selanjutnya. (SH)