Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi momen yang membangkitkan rasa bangga dan haru bagi seluruh anak bangsa. Ia bukan hanya pahlawan bagi umat Islam, tetapi pahlawan bagi kemanusiaan. Pengakuan ini mempertegas bahwa perjuangan moral dan nilai-nilai kemanusiaan memiliki tempat yang luhur dalam sejarah bangsa.
Pahlawan Nasional merupakan bentuk penghormatan atas jasa seorang ulama yang menjembatani tradisi dan modernitas, serta membuktikan bahwa spiritualitas dan intelektualitas dapat berjalan beriringan dalam membangun peradaban.
“Kemanusiaan adalah inti dari keislaman”, pesan sederhana Gus Dur ini menjadi warisan pemikiran yang mendalam ketika dinamika sosial dikuasai algoritma dan kecerdasan buatan, pesan itu menjadi penuntun agar kemajuan tidak menghapus nilai kemanusiaan.
Gus Dur adalah figur memanusiakan kemajuan dalam bentuk “humanisasi teknologi”, yaitu menempatkan nilai kemanusiaan dan moralitas sebagai dasar dalam menghadapi disrupsi teknologi. Beliau menunjukkan bahwa kemajuan tidak boleh membuat manusia kehilangan welas asih.
Selain itu, Gus Dur juga membawa nafas Pondok Pesantren pada kepemimpinan negara dengan dasar ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Perangai beliau menjadi teladan bahwa nilai-nilai luhur Pondok Pesantren —seperti kejujuran, keikhlasan, dan kasih sayang— justru menjadi jangkar moral yang mencegah manusia kehilangan arah dan bias aksi.
Semangat Gus Dur akan terus hidup di setiap hati yang mencintai perdamaian dan keberagaman dengan landasan tasamuh, tawasuth, tawazun, dan ta’adul. Gus Dur menjadi cermin santri sejati yang menonjolkan keteladanan akhlak, kecintaan pada ilmu, serta pengabdian yang tulus kepada umat dalam bingkai keislaman dan kebangsaan.
Penganugerahan pahlawan nasional ini menjadi pemantik Santri untuk mampu meneladani semangat berkhidmat untuk kemaslahatan umat, berpikir terbuka, tetap rendah hati, berjuang tanpa pamrih, dan menjaga marwah Islam dengan cara yang penuh kasih sayang. Lebih lanjut, penganugerahan ini juga menunjukkan bahwa santri mampu berkhidmat dan berkiprah di panggung nasional dan internasional.(Sulton)