Kadang kita sibuk mengejar masa depan sampai lupa siapa yang dulu mendoakan masa depan itu.
Kadang kitapun terlalu sibuk berlari sampai lupa siapa yang dulu mengajarkan cara berdiri.
Kita bangga bisa berbicara di depan banyak orang, tapi lupa siapa yang dulu sabar menuntun kita mengeja huruf pertama.
Tatapan tajam Mbah Bisri saat belajar melafadzkan surat Al Fatihah masih terekam jelas dalam ingatan.
Makanya dalam tradisi kita, menunduk di depan kiai dan orang tua bukan tanda kalah, itu justru tanda tahu diri.
Karena ada yang lebih tinggi dari ilmu: yaitu adab.
Dan ada yang lebih besar dari prestasi: yaitu restu.
Kiai itu bukan sekadar guru.
Mereka penjaga nyala ilmu, penuntun batin, dan saksi bahwa doa bisa berbentuk nasihat.
Orang tua juga bukan sekadar asal-usul.
Mereka fondasi tempat kita berpijak, payung yang diam-diam tetap terbuka bahkan ketika kita sudah tak pulang.
Ilmu tanpa adab bisa hilang barokahnya.
Ilmu tanpa restu bisa kehilangan arahnya.
Dan hidup tanpa doa orang tua… sering terasa kering meski kelihatannya berhasil.
Jadi kalau hidup terasa seret, rezeki macet, atau hati sumpek, coba berhenti sebentar.
Datangi orang tua, sowan ke kiai.
Cium tangannya, minta doa, bukan basa-basi. Karena itulah recharge spiritual yang tak dijual di mana pun.
Karena sehebat-hebatnya strategi hidup, kadang kuncinya bukan di rencana besar, tapi di restu yang sederhana.
#ipangwahid